Sabtu, 30 April 2011

PERBANDINGAN RANDOM N NONRANDOM TEHKNIK PENGAMBILAN SAMPLE

TEHKNIK PENGAMBILAN SAMPLE Sampel Acak atau Random Sampling /Probability sampling Sampel Tidak Acak atau Nonrandom Samping/Nonprobability Sampling
1. Pengertian Random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Dengan demikian diharapkan sampel yang terpilih dapat digunakan untuk menduga karakteristik populasi secara objektif. Nonrandom samping adalah setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel karena pengambilan sample mempunyai criteria tertentu.
2. Tujuan Melakukan generalisasi maka seharusnya sampel representatif dan diambil secara acak. Tidak melakukan generalisasi hasil penelitian maka sampel bisa diambil secara tidak acak. tidak mempunyai data pasti tentang ukuran populasi dan informasi lengkap tentang setiap elemen populasi.
3. Jenis Tehnik dan Cara Pengoprasian-nya 1. Simple random sampling adalah Pengambilan sampel secara acak sederhana.
• Setiap populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi jadi sampel.
• Pengambilan acak sederhana ada dua yaitu : lottery technique (undian) dan random number.

Langkah-langkah :
1. Susun “sampling frame”
2. Tetapkan jumlah sampel yang akan diambil
3. Tentukan alat pemilihan sampel
4. Pilih sampel sampai dengan jumlah terpenuhi.
 Keuntungan : sample mudah dan cepat di peroleh.
 Kerugian : kadang-kadang tidak mendapatkan data yang lengkap dari populasi.


2. Systemic Sampling
• Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random, cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis, yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”

Langkah-langkah :
1. Susun sampling frame
2. Tetapkan jumlah sampel yang ingin diambil
3. Tentukan K (kelas interval) dengan mem- bagi jumlah populasi dengan sampel.
4. Mulailah mengambil sampel dimulai dari angka atau nomor awal dari kelipatan interval.
5. Pilihlah sebagai sampel angka atau nomor interval berikutnya.

Populasi 200 yang diinginkan 50, maka intervalnya adalah 200/50=4, maka anggota populasi yang terkena sampel adalah setiap elemen yang mempunyai nomor kelipatan 4 yakni 4,8,12,16 dst sampai jumlah sampe l50 orang.
 Kelebihan : teknik ini lebih cepat dan mudah dalam menentukan sample.
 Kelemahan : kadang-kadang kurang mewakili populasinya.

3. Stratified Sampling, Teknik pengambilan sampel dari populasi Heterogen di mana populasinya dibagi-bagi terlebih dahulu menjadi kelompok yang relatif homogen (stratum) untuk menjamin keterwakilan dari masing-masing stratum.

Langkah-langkah :
1. Siapkan “sampling frame”
2. Bagi sampling frame tersebut berdasarkan strata yang dikehendaki
3. Tentukan jumlah sampel dalam setiap stratum
4. Pilih sampel dari setiap stratum secara acak.

a. Proportinate stratified sampling
• Jumlah subjek dalam setiap strata sama besar sampel dibagi jumlah strata
• Misal besar sampel = 240, dan strata = jenis kelamin
(2 strata)
• Jumlah subjek dalam setiap strata=240/2=120 (dari kelompok laki-laki dipilih120 subjek, dan dari kelompok perempuan dipilih 120 subjek pula)

b. Disproportinate stratified sampling
• Jumlah subjek dalam setiap strata tidak sama bergantung pada proporsi variable yang ada dalam populasi. Biasanya terjadi apabila salah satu atau beberapa strata memiliki kuantitas yang berbeda.
• Misal populasi=3000, laki-laki=1000, perempuan=2000
• Hitung proporsi proporsi laki-laki=1000/3000=1/3; proporsi perempuan= 2000/3000=2/3

 Kelebihan : anggota sample yang diambil lebih representative.
 Kelemahan : Lebih banyak memerlukan usaha pengenalan terhadap karateristik populasinya.

3. Cluster Sampling
Metode pengambilan sampel berkelompok ( cluster sampling ) adalah metode yang digunakan untuk memilih sampel yang berupa kelompok dari beberapa kelompok (groups atau cluster) dimana setiap kelompok terdiri atas beberapa unit yang lebih kecil (elements ). Jumlah elemen dari masing – masing kelompok (size of the cluster) bisa sama maupun berbeda.
• Digunakan bila populasinya besar sulit mengidentifikasi setiap individu dalam populasi (ingat dalam simpledan stratified semua individu harus diberi nomor)
• Populasi besar misalnya penduduk dalam kota besar, provinsi, atau Negara
• Contoh Individu dalam populasi dikelompokkan kedalam ‘cluster’ (missal berbasis (Provinsi)

Langkah-langkah :
1. Susun sampling frame berdasarkan cluster – Dalam kasus di atas dalam Negara Indonesia ada 33 clauster.
2. Tentukan berapa cluster yang akan diambil sebagai sample.
3. Pilih Clauster sebagai sampel dengan cara acak.
4. Pilih individu dalam cluster sample sebagai sampel dengan cara acak.
5. Teliti sample individu dalam claster sample.


Perlu diingat bahwa dalam menentukan sample individu dalam clauster sample bisa dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Karena masayrakat Indonesia terdiri dari beberapa satrata.

 Kelebihan : dapat mengambil populasi besar yang tersebar di berbagai daerah.
 Kekurangannya : jumlah individu dalam setiap pilihan tidak sama, ada kemugkinan penduduk tersebut berpindah daerah tanpa sepengatahuan peneliti sehingga menjadi anggota rangkap sample penelitian.
1. Proposive Sampling, Pengambilan sampel dilakukan hanya atas dasar pertimbangan penelitinya saja
yang menganggap unsur-unsur yang dikehendaki telah ada dalam anggota
sampel yang diambil.
• Mula-mula penelitian melakukan penelitian pendahuluan, mempelajari masalah secara menyeluruh.
• Kemudian peneliti menetapkan sendiri apa yang akan diteliti (sesuaipertimbangannya).

Contoh :
Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya. Misalnya untuk memperoleh data tentang bagaimana satu proses produksi direncanakan oleh suatu perusahaan, maka manajer produksi merupakan orang yang terbaik untuk bisa memberikan informasi. Jadi, judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”.

 Kelebihan : murah, cepat dan mudah serta relevan dengan tujuan peneliti.
 Kekuranngan : tidak representative untuk mengambil kesimpulan secara umum (generalisasi)

2. Quota Sampling
Pengambilan sampel hanya berdasarkan pertimbangan peneliti saja, hanya disini
besar dan kriteria sampel telah ditentukan lebih dahulu.

1. Memudahkan mendapat sampel
2. Menggunakan pemandu berupa karakteristik yang mudah, misal jenis kelamin, ras, dan sebagainya
3. Tempat memilih subjek sesuka peneliti
4. Bila ada subjek sesuai dengan kriteria inklusi diambil
5. Pemilihan sampai besar sampel terpenuhi
Contoh :
Misalnya Sampel yang akan di ambil berjumlah 100 orang dengan perincian 50 laki dengan criteria umur atau ras dan 50 perempuan dengan criteria umur dan ras yang sudah di tentukan peneliti terlebih dahulu.
3. Accidental Sampling
Sampel diambil atas dasar seandainya saja, tanpa direncanakan lebih dahulu.
Juga jumlah sampel yang dikehenadaki tidak berdasrkan pertimbangan yang
dapat dipertanggung jawabkan, asal memenuhi keperluan saja. Kesimpulan yang diperoleh bersifat kasar dan sementara saja dan berdasarkan kemudahan saja.

Seseorang diambil sebagai sampel karena kebetulan orang tadi ada di situ atau kebetulan dia mengenal orang tersebut..

Contoh :
Seorang peneliti ingin meneliti kemampuan intelektual dalam sebuah rukun tetanga maka dia hanya memilih sample orang yang di kenalnya atau orang yang tinggal dekat dengan lokasi penelitihan tersebut.

 Kelebihan : Mudah, murah dan sedehana.
 Kelemahan : kurang objektif dan representatif


4. Snowball Sampling
Teknik sampling ini tepat digunakan bila populasinya sangat spesifik. Cara pengambilan sampel dengan teknik ini dilakukan secara berantai, mulai dari ukuran sampel yang kecil, makin lama semakin besar.

Cara ini banyak dipakai ketika peneliti tidak banyak tahu tentang populasi penelitiannya. Dia hanya tahu satu atau dua orang yang berdasarkan penilaiannya bisa dijadikan sampel. Karena peneliti menginginkan lebih banyak lagi, lalu dia minta kepada sampel pertama untuk menunjukan orang lain yang kira-kira bisa dijadikan sampel. Cenderung kepada populasi yang tertutup.

Contoh :
Misalnya, seorang peneliti ingin mengetahui pandangan kaum lesbian terhadap lembaga perkawinan. Peneliti cukup mencari satu orang wanita lesbian dan kemudian melakukan wawancara. Setelah selesai, peneliti tadi minta kepada wanita lesbian tersebut untuk bisa mewawancarai teman lesbian lainnya. Setelah jumlah wanita lesbian yang berhasil diwawancarainya dirasa cukup, peneliti bisa mengentikan pencarian wanita lesbian atau kelompok lain yang eksklusif (tertutup).

 Kelebihan : murah, cepat dan mudah serta relevan dengan tujuan peneliti.
 Kekuranngan : tidak representative untuk mengambil kesimpulan secara umum (generalisasi)

4. Keunggulan e Derajat kepercayaan terhadap sampel dapat ditentukan.
e Beda penaksiran parameter populasi dengan statistik sampel, dapat diperkirakan
e Besar sampel yang akan diambil dapat dihitung secara statistik
e Bisa digeneralisasikan secara obyektif e Biaya sangat sedikit
e Hasilnya diminta segera
e Tidak memerlukan ketepatan yanq tinggi karena memberi kemudahan peneliti
e Tidak perlu sampling frame
e Tidak perlu tahu besar populasi
e Tidak perlu tempat tinggal tertentu Inklusi dapat dipenuhi.
5. Waktu penggunaan Ketika kita ingin mendapatkan suatu sampel yang "representatif. Ketika ingin hanya sekedar gambaran umum saja
6. Kriteria 1. Setiap Objek dalam populasi yang akan diambil sample mempunyai kesempatan yang sama.
2. Bersifat Objektif.
3. Tidak ada criteria tertentu. 1. Metode ini tidak memberikan peluang yang sama pada tiap anggota populasi.
2. Bersifat subjektif.
3. Ada criteria tertentu diharapkan penelitia untuk memudahkan penelitian.

TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL PENELITIAN




Disusun Oleh :
1. Rizky Al-Kharim (094674015)
2. Faradilla Nissa (094674041)
3. Fachrul S (094674025)
4. Rindayani (094674003)
5. Riza Kurnia (094674016)


FAKULTAS ILMU SOSIAL
JURUSAN PMPKN
PRODI S1 ILMU ADMINISTRASI NEGARA 2009
UNIVERSITAS NEGER SURABAYA
2010

RESPON PENGGUNA JASA SETIA PT. KAI KELAS EKONOMI DI STASIUN PASAR TURI MENGENAI KEJADIAN KECELAKAAN KAI PADA TAHUN 2010

Oleh : Rizki Al Kharim

BAB IV
HASIL DAN PEMBHASAN

Pada bab ini akan disajikan mengenai hasil olah data, analisis data dan pembaahasannya. Adapun data didapat dari penyebaran angket kepada responden yaitu para penumpang kereta api kelas ekonomi di Stasiun Pasar Turi. Analisis ini mempunyai tujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh respon pengguna jasa PT. KAI kelas ekonomi di Stasiun Pasar turi terhadap kejadian kecelakaan KAI tahun 2010. Peneliti memperoleh data penelitian dengan menyebar angket yang dilaksanakan tanggal 11-12 Desember 2010. Pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan sample dengan teknik Accidental Sampling random sesuai dengan populasi yang telah ditentukan. Dari populasi penelitian sample diambil sebanyak 21.3 % yaitu sejumlah 213 orang yang dapat mempresentasikan hasil penelitian yang dilakukan, dengan taraf kesalahan 10% dari rata-rata populasi 1000 orang perharinya. Peneliti membagikan angket kepada responden melalui kunjungan langsung sesuai dengan jumlah sampel.
1. Metode Analisis Data
1. Analisis Angket
Angket disusun berdasarkan skala Likert dengan kategori skor Tabel 3.1 Tabel 3.1 Skala Likert
Skor Keterangan
1 Untuk responden yang memilih opsi a
2 Untuk responden yang memilih opsi b
3 Untuk responden yang memilih opsi c





Skor yang diperoleh dihitung dengan rumus:
Skor kriteria = skor tertinggi x Ʃitem pertanyaan x Ʃresponden
Presentase (%) = x 100%
Untuk menginterpretasikan besarnya presentase skor digunakan kriteria Tabel 3.2
Tabel 3.2 Interpretasi Skor Penilaian
Presentase Kategori
1-30% Rendah
31-70% Normal
71-100% Tinggi

Berdasarkan kriteria di atas, kejadian kecelakaan KAI pada tahun 2010 dikatakan normal apabila presentase pada skor untuk butir no.3 dan 4 berada pada 31-70%. Begitu juga dengan reaksi responden atas kejadian tersebut, dampak kecelakaan dengan tingkat penggunaan, serta tingkat pelayanan yang diberikan PT. KAI kelas ekonomi.
2. Analisis Respon Pengguna Jasa Transportasi Kereta Api
Data tentang respon pengguna jasa transportasi KAI diperoleh dari angket respon pengguna jasa transpotasi KAI dianalisis dengan presentase dan disimpulkan dalam bentuk kalimat deskriptif. Dalam angket terdapat 4 pertanyaan yaitu nomor 3, 4, 5 dan 6 yang menayakan tentang respon masayarakat terhadap kejadian kecelakaan KAI tahun 2010. Dari hasil pengolahan data respon masyarakat yang ada dalam pertanyaan presentase masing-masing 70.1%, 70.7%, 70.7%, dan 68.5% di rata-rata menjadi 70% yang termasuk respon dalam kategori normal yaitu antara 30-70%. Yang dimaksud normal disini yaitu :
1. Keperdulian responden tentang kecelakaan kereta api kelas ekomoni yang terjadi selama tahun 2010 mengaggap kejadian kecelakaan tersebut sudah biasa dalam arti kecelakaan yang wajar terjadi.
2. Tingkat kecelakaan yaitu responden menggap kecelakaan tersebut dalam tingkatan normal dalam arti tingkat korban jiwa, kerusakan gerbong dll masih normal.
3. Reaksi dan pengaruh responden terhadap kecelakaan kereta api, yang dimaksud reaksi dan pengaruh responden adalah responden ketika responden mengetahui kecelakaan tersebut hanya kaget dan takut tapi tidak berlangsung lama.

3. Analisis dampak dari kecelakaan yang terjadi di tahun 2010 terhadap tingkat penggunaan jasa transportasi kereta api kelas ekonomi
Analisis dampak kecelakaan akan dapat kita ketahui dari pertanyaan angket nomor 8 dengan prossentase 68.8% yang termasuk kedalam kategori normal. Normal disini yaitu para penumpang KAI kelas ekonomi di stasiun pasar turi setelah mengetahui kejadian kecelakaan kereta api tahu 2010 berdampak kepada para penumpang seperti mulai mengurangi penggunaan jasa KAI kelas ekonomi. Kebanyakan penumpang mengetahui kejadian tersebut dari media cetak maupun elektronik, dan orang lain, hanya sedikit orang yang mengtahui langsung kecelakaan tersebut. Penumpang kereta api sedikit mengurangi penggunaanya terhadap jasa pelayanan KAI. Mereaka yang masih menggunakan sebagian besar mereka beralasan menggunakan jasa kereta api lebih efisien karena kemudahan akses dan kecepatan waktu tempuh kereta api.

4. Analisis harapan pengguna jasa PT. KAI kelas ekonomi di Stasiun Pasar Turi
Analisis dampak kecelakaan akan dapat kita ketahui dari pertanyaan angket nomor 9 dengan prossentase 68.8% yang termasuk kedalam kategori normal. Normal disini yaitu para penumpang KAI kelas ekonomi di stasiun pasar turi setelah mengetahui kejadian kecelakaan kereta api tahu 2010, penumpang menganggap pelayanan yang diberi oleh PT. KAI sudah cukup memuaskan. Dalam arti disini, kemudahan akses, biaya yang tidak begitu mahal, tersedianya banyak kereta api yang dioprasikan untuk pengguna jasa KAI. Disini dampak kecelakaan tidak secara langsung mempengaruhi respon pengguna, kebanyakan pengguna tidak befikir secara langsung dari biaya yang murah dapat mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan yang rendah dan dapat memungkinkan terjadinya kecelakaan kecelakaan.













BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tingkat kepuasan responden respon pengguna jasa PT. KAI kelas ekonomi di Stasiun Pasar turi terhadap kejadian kecelakaan KAI tahun 2010 masih normal ditunjukkan oleh beberapa factor mulai dari tanggapan pengguna, reaksi, dampak atas penggunaan jasa KAI dan harapan pengguanaa kepada penyedia jasa KAI. Respon penumpang KAI kelas ekonomi tentang kecelakaan yang sering terjadi tahun 2010 masih normal 70% responden menganggap kejadian kecelakaan kereta api masih wajar, tingkat kecelakaannya juga normal, para penumpang hanya kaget saja setelah mengetahui kejadian tersebut dan meraka takut menggunakan kereta api.
Dampak kecelakaan tersebut terhadap tingkat penggunaan jasa kereta api oleh penumpang di stasiun sedikit berkurang dalam arti para penumpang ketika mengetahui kecelakaan di tahun 2010 sedikit mengurangi penggunaanya tetapi masih dalam tingkatan normal dalam arti dalam waktu dekat saja mereka mengurangi penggunaan jasa kereta api, tetapi setelah mereka sudah lupa akan tetap menggunakan jasa kereta api seperti biasa. Para penumpang merespon pelayanan yang telah diberikan cukup memuaskan dalam arti murah biayanya, trus kemudahan akses, serta bayak akomodasi yang disediakan.
Harapan para penumpang kepada penyelenggara jasa angkutan kereta api yang tidak lain adalah PT. KAI agar kecelakaan dalam perkretaapian tidak ada lagi, Banyak penumpang berharap perlu dilakukan perbaikan fasilitas dan system perkeretaapian yang nantinya akan membuat penumpang nyaman berada di kreta api dan adanya system modern yang membantu penyelenggaraan trasportasi kereta api lebih tercontrol dan tertangani dengan baik.
B. Saran
Dalam penyelenggaraan angkutan transportasi kereta api kelas ekonomi perlu di perhatikan secara menyeluruh. Walaupun masayarakat sudah merasa puas tentang biaya yang terjangkau dan kemudahan akses, tetapi masih bayak hal yang perlu di tigkatkan seperti fasilitas dan system keamanan terpadu yang ada di dalam perkretaapian. Biaya yang murah tidak menjadikan PT. KAI mengurangi fasilitas kepada pengguna jasa kelas ekomoni yang nantinya banyak berimbas kepada terjadinya kecelakaan. Baik masyarakat dan PT. KAI sebagi satu-satunya penyedia layanan perkeretaapian harus saling bekerja sama untuk lebih memenuhi hak serta kewajibanya masing-masing. Para penumpang diharapkan lebih patuh dan mentaati perturan yang telah ditetapkan oleh PT. KAI khususnya dalam menyelenggarakan kelas ekonomi dan PT. KAI sendiri diharapkan lebih responsive terhadap keluhan-keluhan yang dirasakan oleh para penumpang.














DAFTAR PUSTAKA



Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Usman, Husaini dan Purnomo Setiady Akbar. 2009. Metode Penelitian Sosial. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Baron, Robert dan Donn Byrne. 2003. Social Psychology. New York: Pearson Edocation, Inc.

Miro, Fidel. 2005. Perencanaan Transportasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Kamaludin, Rustian. 2003. Ekonomi Transportasi. Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.

http://www.kompas.com

Jurnal Teknik Sipil, Vol. 3 , No. 2, Juli 2006 95

KETERTARIKAN LAWAN JENIS ANTARA ATASAN DAN BAWAHAN DIKAJI DARI STUDI ILMU PRILAKU ORGANISASI

b. Studi Kasus
Terdapat sebuah kasus pada PT PO yang merupakan perusahan obat dan minuman terkait dengan ketertarikannya terhadap lawan jenis pada sesame karyawan pada perusahaan tersebut. Seorang general manajer yakni pak adi Subagyo yang merupakan salah seorang pimpinan disana disukai banyak orang khususnya karyawan lawan jenis (perempuan) karena pribadinya yang bijaksana dan santun. Salah seorang karyawan bernama Suntianing merupakan salah satu dari sekian karyawan yang tertarik pada sosok general menejer tersebut
Namun adanya perbedaan status yang dimiliki keduanya dapat menarik perhatian public yang mana pak Adi merupakan seorang pemimpin dan suami (sudah menikah) sedangkan Suntianing masih lajang. Adanya hubungan antara keduanya tersebut merupakan suatu penyimpangan atau dapat disebut skandal perselingkuhan yang terjadi disuatu instansi perusahaan tersebut.
Asmara di kantor, sebenarnya, bukan lagi hal yang baru. Sejak jaman dulu, yang namanya main mata, pacaran atau kencan sesama teman kerja sudah ada. Pertemuan terus menerus hampir setiap hari, yang biasanya diikuti dengan adanya tambahan perhatian yang berupa sapaan, pujian, gurauan atau juga ajakan makan siang atau pulang bersama, bisa menimbulkan kedekatan yang akhirnya rasa ketertarikan dan bisa berujung pada 'skandal' asmara ketika fungsi kontrol diri tak lagi terkendali. Proses yang sebenarnya wajar dan manusiawi, apalagi di kota-kota besar seperti jakarta.

c. Analisa Kasus dan Problem Solving
Dalam kasus tersebut menunjukan adanya suatu hubungan ketertarikan antar personal yakni bawahan dengan pimpinannya dalam suatu organisasi perusahaan. Dengan adanya hubungan spesial antar kedua belah pihak tersebut dapat berpengaruh pada efesiensi dan efektifitas kinerja karyawan baik secara langsung maupun secara tidak langsung.
Dalam suatu organisasi pasti terjadi adanya interaksi antar satu karyawan dengan karyawan yang lain serta antar pada pimpinan pada perusahaan itu sendiri. Adanya interaksi tersebut menimbulkan suatu ketertarikan tersebut. Disini kita akan menganalisa kasus diatas dengan 5 pendekataa yaitu pendekatan prilaku individu dalam organisasi, pendekatan motivasi, pendekatan presepsi dan komunikasi, pendekatan kepemimpinan dan kekuasaan dalam organisasi, pendekatan efesiensi dan efektivitas kerja.
Pertama, dalam pendekataan prilaku organisasi kalau kita kaitkan dengan kasus diatas. Pendekatan prilaku organisasi memandang kasus tentang ketertarikan antara seorang karyawan wanita kepada seorang pria dalam kantor yaitu antara bawahan dan atasan sebenarnya itu wajar. Ketertarikan itu menjadi tidak wajar karena Adi adalah seorang pria yang sudah menikah dan merupakan GM yang dihargai oleh bawahannya yang melakukan hubngan personal dengan Sutianing. Prilaku individu dalam kasus diatas antara seorang pria sebagai atasan dan wanita sebagai bawahanya terlalu mengunakan faktor kognitif dimana mereka mendahulukan kepentingan pribadinya yaitu asmara antara kedua. Mereka berdua tidak melihat reinforcement yang merupakan kemampuan berfikir yang dipengaruhi lingkungan. Sebenarnya ketika mereka saling berinteraksi harus melihat lingkunganya diamana mereka berada dan apa yang menjadi tanggungjawabnya didalam sebuah perusahaan. Kalau mereka berfikir dengan mempertimbangkan lingkungan maka interaksi yang terjalin atas dasar kerja sama untuk mencapai tujuan bersama dalam sebuah perusahaan. Dalam pendekatan prilaku individu ada aspek pisikoanalitis. Kalau kita cermati kasus diatas dalam diri Adi dan Sutianing kurang adanya kontrol. Mereka terlalu menggunakan Id dalam bertindak yang merupakan segala nafsu dan harapan. Meraka berdua tidak melihat Ego atau kenyataan yang ada di lingkungan bahwa mereka sedang dalam sebuah perusahaan yang menjadi tanggung jawab mereka dan Superego yang seharusanya dapat mengontrol interaksi yang ada diantara mereka agar tidak menjurus ke asmara.
Kedua, Pendekatan motivasi memandang kasus diatas terjadi karena motivasi mereka dalam bekerja untuk mencapai tujuan perusahaan sangatlah kurang. Kalau seseorang karyawan sudah menjadi bagian dari perusahan tersebut maka secara sadar dia akan termotivasi dalam kinerjanya yang tercermindalam komitmentya untuk bekerja keras dalam memenuhi tanggung jawabnya kepada perusahaan. Kurangnya motivasi ini juga menimbulkan kurangnya kedibilitas antara Adi dan Sutianing dalam bekerja. Adi yang merupakan seorang atasan harusnya dapat memberi keprefesionalitasannya kepada Sutianing yang merupakan wanita yang mengaguminya dan sebaliknya juga dengan Sutianing. Kita dapat menilai juga ketika mereka malakukan interaksi antara satu sama lain yang terjadi bukan motivasi untuk bekerja sama untuk mencapai tujuan sebuah perusahaan tetapi lebih dipengaruhi oleh motivasi kepentingan asmara diantara mereka. Dalam teori kebutuhan yang menyebabkan seseorang termotivasi untuk melakukan tindakan tertentu untuk mencpapi tujuannya. Dalam hal ini Adi dan Sutianing melakukan interaksi termotivasi dengan kebutuhan pribadi (asmara). Menurut Maslow teori kebutuhan bersifat hirarki. Dapat diakatan bahwa kasus diatas dimulai oleh hal terkecil yaitu saling bertemu, kemudia berbicara, melakukan interaksi pribadi samapai ketindak perselingkuhan. Sebenarnya hal ini dapat diatas dengan mengembalikan komitmen kredibilitas kita kepada perusahaan. Bahwa segala aktifikas yang kita lakukan dalam sebuah organisasi perusahaan hanya untuk mencapi tujuan perusahaan.
Ketiga, Pendekatan presepsi dam komunikasi. Dalam pendekatan ini memandang kasus diatas terjadi karena kesalahan presepsi dan komunikasi yang tidak efektif dalam sebuah organisasi. Kesalahan presepsi yang dimaksud adalah antara Adi dan Sutianing telah mempresepsikan interaksi diantara mereka sebagi sesuatu yang wajar dan saling membutuhkan. Dalam pengaruh internal presepsi antra mereka dipengaruhi oleh memori atau pengalaman pribadi yang dialami keduanya. Bisa saja memang dalam kehidupannya mereka telah terbiasa membicarakan masalah asmara kepada orang lain dilingkup organisasinya dan tanggungjawabnya. Dalam faktor eksternal yaitu presepsi yang dipengaruhi karena Sutianing memandang Adi sebagai pria idaman yang cocok dengannya. Sedangkan Adi memandang Suatianing sebagai wanita yang kagum padanya dan dia tidak mau menyakiti Sutianing yang telah berharap kepadanya (Kasihan). Presepsi ini salah karena sebenarnya mereka dapar berpresepsi sesuai keadaan mereka sutianing ketika bertemu dengan Adi akan mempresepsiakan Adi sebagi atasanya yang perlu dihargai dan membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan perusahaan saja begitu juga sebaliknya dengan Sutianing. Keadaan Adi juga yang sudah mempunyai istri juga akan mempengaruhi faktor internal dalam berpresepsi kepada Suatianing dan itu juga mempengaruhi faktor eksternal Sutianing ketika mempresepsikan Adi yang sudah punyai istri. Dngan itu komunikasi akan terarah dan saling mengerti apa yang harus dibicarakan.
Komunikasi merupakan aktivitas yang tak terhindarkan dalam sebuah organisasi. Setiap kerjasama antara Adi sebagai atasan dan Sutianing sebagai bawahan pasti memerlukan interaksi yang berbentuk komunikasi. Komunikasi antara Adi dan Sutianing dalam kasus diatas tidak efektif. Dalam organisasi ada 5 syarat untuk mewujudkan komunikasi yang efektif yaitu keterbukaan, dalam hal ini komunikasi antra mereka berdua memang ada keterbukaan tetapi mereka salah mengartikan keterbukaan tersebut sampi menceritakan hal-hal pribadi tentang ketertarikannya, padahal keterbukaan yang dimaksud adalah keterbukaan antra hal-hal yang ada dalam perusahaan. Kedua yaitu empati, empati yang dilakukan oleh mereka berdua juga salah. Hal ini disebabkan karena Adi yang terlalu menanggapi pembicaraan karena rasa kasihannya kepada Sutianing, padahal pembicaraan tersebut akan dapat dihentikan kalu Adi tidak berlebihan kepada Sutianing. Kepositifan, Dalam keepositifan ini yang dimaksud adalah komunikasi yang dihasilkan merupakan hal yang positif bagi perusahaan, tetapi dalam kasus diatas komunikasi yang dihasilkan sedikit membicarakan perusahaan mereka lebih menghabiskan waktu interaksi antara mereka berdua dengan kepentingan prbadi.
Keemapat yaitu Kepemimpinan dalam organisasi. Kita tahu bahwa Adi adalah seorang GM yang merupakan salah satu pemimpin bagian dalam perusahaan distribusi obat. Menurut Ichak Adizes Sebenarnya ada empat peranan manager yang harus diajalankan oleh manager agar organisasi berjalan dengan baik yaitu, memproduksi, melaksanakan, melakukan informasi dan mendukung. Sebenarnya Adi dalam memang benar melakukan peranan untuk melakukan hubungan inpersonal dengan bawahan yang dipimpinya tetapi disini hubungan itu dengan tujuan meotivasi, mengembangkan dan mengendalikan Sutianing atau bawahan yang lain dalam bekerja mencapai tujuan perusahaan. Dalam kepeminpinan juga ada kekuasaan yang merupakan alat untuk mempengaruhi orang lain. Walaupun dalam hubungan asmara dasarnya suka sama suka, tetapi Adi sebagai pemimpin dengan kekuasaanya lebih dapat mempunyi kewenangan untuk mengendalikan dan melarang Sutiang. Memang benar peranan menager yang baik yaitu harus ada saling ketergantungan dengan bawahan tetapi ini untuk masalah pencapaian tujuan perusahaan bukan untuk kepentingan pribadi yang dialami oleh Adi dan Sutianing.
Kelima yaitu efesiensi dan prosedur kerja. Tindakan yang diakukan oleh Sutianing dan Adi, jelas tidak efisien dam melanggar prosedur kerja. Dapat diketahui dalam prosedur kerja dirancang untuk melegalkan dan memberi batasan efisiensi. Sehingga pasti dalam prosedur keja terdapat muatan efisiensi. Dalam hal ini kasus diatas kalu dilihat dari sudut pandang efisiensi maka kegiatan interaksi dalam bentuk komunikasi termasuk dalam penghematan waktu, tenaga. Komunikasi yang dikaukan oleh Adi untuk kepentingan pribadi jelas tidak efisien. Walaupun ini tidak terlalu menonjol dan berhubungan ekstrim dengan prosedur kerja tetapi ini sangat mempengaruhi efisiensi kinerja karyawan. Memang kasus diatas tidak memperlihatkan dampak atau akibat dari adanya interaksi pribadi yang berdampak peselingkuhan. Dapat diprediksi ini pasti akan memberi pengaruh kapada output yang akan dihasikan oleh perusahaan tersebut walaupun tidak secara langsung. Biasa saja akan timbul masalah kecemburuan antar karyawan dan pencitraan negatife, mengingat posisi Adi dan suatianing sangat strategis dalam perusahaan tersebut.

KESIMPULAN
Masalah ketertarikan lawan jenis antara atasan dan bawahan memang sudah sering terjadi dalam sebuah prusahaan yang ada di kota metropolitan seperti Jakarta. Perusahaan merupakan organisasi formal yang mempunyai tujuan tertentu. Dalam mencapai tujuannya perusahaan akan semaksimal mungkin mencapai dengan cara efektif dan efisien. Dalam kasus ketertarikan lawan jenis antara Adi dan Sutianing merupakan masalah yang dapat menghambat efiensi kerja yang akan berimbas kepada pencapaian tujuan. Studi Ilmu Prilaku Organisasi mengkaji dari beberapa pendekatan untuk mengetahui apakah yang menyebabkan kasus diatas terjadi dan apa pengaruhnya kepada perusahaan. Dalama pendekatan prilaku organisasi, kasus diatas merupakan hasil dari ketidak seimbangan antara reforcement dan kognitif dan Id dalam diri yang berlebihan yang tidak terkendalikan. Dalam pendekatan motivasi masalah diatas diakibatkan oleh kurangya komitmen kepada perusahaan. Dalam pendekatan presepsi dan komunikasi kasus diatas diakibatkan oleh tidak adanya komunikasi yang positif dan presepsi yang kurang terkontrol. Dalam pendekatan kepemimpinan kasus diatas diakibatkan oleh kurang adanya fungsi kontrol yang dilakukan oleh atasan. Memang benar atas harus melakukan interaksi interpersonal kepada bawahanya agar dapat memotivasi, dll, tetapi ini tidak terjadi. Dalam pendekatan efisiensi dan prosedur kerja. Jelas kasus diatas tidak efisien karena waktu yang seharusnya digunakan untuk berintrasi dalam kerja sama pencapaian tujuan perusahaan malah digunakan untuk kepentingan pribadi.
Solusi yang ditawarkan untuk mengatasi masalah ini yaitu dengan menggunakan lima pendekatan diatas. Dalam pendekatan prilaku individu dalam organisasi kita dapat menyeimbangkan antara kognitif dan reforcement dan mengontrol Id yang merupakan nafsu dengan ego dan superego. Dalam pendekatan Motivasi, kita dapat memperkuat komitment kita kepada perusahaan agar kita tetap termotivasi untuk benar-benar mengutamakan kpentingan prusahaan bukan kebutuhan kita pribadi. Dalam pendekatan persepsi dan komunikasi, kita dapat menggunakan syarat komunikasi yang efektif yaitu yang mengutmakan kepositifan dalam berkomunikasi dan presepsi yang mengunakan latar belakang kepentingan pencapian tujuan prusahaan. Dalam pendekatan kepemimpinan, kita dapat menggunakan kekuasaan atas yang merupakan alat untuk mengendalikan bawahan agar bawahan tetap konsisten dengan tangung jawabnya dan bawahan juga tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal negatif yang ada dalam diri pimpinan. Dalam pendekatan efisiensi dan prosedur kerja, kita dapat lebih mengetatkan control aktif antara karyawan ketika ada karyawan baik atasan maupun bawahan membina hubungan yang sebenarnya tidak layak dilakukan maka akan dekenai sanksi. Adanaya pengurangan waktu interaksi atau komunikasi antar personal yang dapat memicu komunikasi yang tidak positif.

DAFTAR PUSTAKA
Jiwanto, Gunawan. 1985. Komunikasi Dalam Organisasi. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Manajemen Fakultas Ekomoni Universitas Atma Jaya.
Kast, E. F dan Rosenzweig, E. J. 1996. Organisasi dan Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Senior. 2003. Seks di Kantor Tak lagi Sekedar Makan Malam. (http://portal.cbn.net.id, diakses tanggal 6 Maret 2011).
Syamsi, Ibnu. 2004. Efisiensi, Sistem, dan Prosedur Kerja. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Terry, R. G. 2006. Prinsip-Prinsip Manajemen. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Thoha, Miftah. 2007. Prilaku Organisasi: Konsep Dasar dan Aplikasinya. Jakarta: PT Rajawali Grafindo.
Widayana, Lendi. 2005. Knowledge Management. Malang: Bayumedia Publishing.
Winardi. 2007. Motivasi dan Pemotivasian Dalam Manajemen. Jakarta: PT Rajawali Grafindo


Senin, 25 April 2011

PROSES SOSIAL SEBAGAI ALAT KESEIMBANGAN SISTEM SOSIAL INDONESIA

A. Pendahuluan


Rungan lingkup dalam system sosial memang menjadi bahasan penting yang harus kita mengerti. Proses sosial sangat di pengaruhi oleh tatan sosial masyarakat, apabila dalam tatanan masyarakat yang seimbang dan harmonis maka proses sosial pun aka berjalan dengan baik dan sebaliknya apabila tatanan sosial dalam mayarakat tidak seimbanga atau kacau maka proses sosialnya pun menjadi terganggu yanga pada akhirnya juga dapat mempengaruhi system sosial dalam masyarakat tersebut. Dalam bahasan kali ini kita akan membahas lebi jahu apakah ruang lingkup dalam proses sosial yang nantinya di pengarui oleh system sosial mayarakat dalam susatu daerah. Kita semua tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah bangsa yang majemuk karena didalamnya terdapat banyak perbedaan suku bangsa, agama adat, bahasa daerah dan latar belakang kehiudupan sosial mereka, ini semua yang membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang majemuk, di ungkapkan oleh Furnivall pada masa pemerintahan Hindia-Belanda masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga golongan yaitu golongan masyarakat Belanda, golongan masyarakan Tionghoa dan golongan masyarakat Pribumi mereka mempunyai pola dan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan mereka yang sangat mengakar kuat dalam kehidupan bernasyarakat. Dengan adanya nilai-nilai yang dianut dari taip golongan sulit sekali pada saat itu terjadi pengintegrasian mereka mengaanggap kelompoknya paling baik, yang menyebabkan tidak adanya kehendak bersama atau permintaan sosial yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat (common social demand) mereka hanya bekerjasama dalam masalah ekonomi yang akhirnya menghantarkan mereka pada cara bagai mana memenuhi kebutuhan mereka seperti golongan Belanda sebagai masyarakat perkebunan, golongan Pribumi sebagai mastarakat pertanian dan golongan Tionghoa sebagi golongan pemasaran diantara kedua golongan tersebut. Semua yang kita gambarkan adalah gambaran dari masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, sedangkan keadaan masyarakat pada masa kini gambaran pada masa dulu dijadikan rujukan untuk melihat kemajemukan masyarakat Indonesia pada masa yang sekarang dengan gambaran tersebut kita akan dapat mendiskripsikan masyarakat majemuk sebagi masyarakat yang mempunyai beberapa karateristik yang di ungkapkan oleh Pierre L. van den Berghe sebagai sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk, yaitu: 1) Adanya bentuk-bentuk dalam kedalam kelompok yang memiliki sub kebudayaan yang berbeda, 2) Memiliki struktur sosial yang dan lembaga yang bersifat non parlementer, 3) Kurang mengembangkan konsensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar, 4) Seringannya konflik antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. 5) Secara relative integrasi sosial tumbuh karena paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi, 6) adanya dominasi pilitik oleh suatu kelompok atas kelompok lain.

B. Ruang lingkup proses sosial

Dalam kehidupan masyarakat proses sosial akan selalu ada karena proses sosial adalah bagian yang mutlak untuk menjalankan kehidupan masyarakat mustahil adanya suatu masyarakat yang memiliki system sosial apabila tidak dimulai dengan proses sosial terlebih dahulu, karena dengan adanya proses sosial maka maka masyarakat akan menjadi suatu hubungan yang terjalin secara timbale balik dengan begitu makan akan terjadi suatu kelompok dan kelopok itu pun pada akhirnya akan menjadi masyarak iat. Dan bentuk proses sosial adalah interaksi sosial.
B.1 Pengertian proses sosial
Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang-perorangan dan kelompok-kelompok sosial saling bertemu dan menentukan sistem serta bentu-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang terlah ada. Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbale-balik antara pelbagai segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh-mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum, dst.
Interaksi sosial merupakan kunci dari semua kehidupan sosial, karena tanpa interkasi sosial tak akan mungkin ada kehidupan bersama.

B.2 Interaksi sosial
Salah satu dari bentuk realitas sosial yaitu interaksi, bagi ahli sosiolagi, interaksi sosial dalam masyarakat dilakukan secara terus menerus adalah sebuah proses untuk membentuk kenyataan sosial yang perlu dipertanyaakan dan di bongkar untuk kemudian merangkainya kembali dalam suatu bentuk analistis tertentu yang dapat ditelit, dan dikomunikasikan kepada orang lain, serta bisa diuji kembali kebenaranya.
B.2.1. Pengertian interaksi sosial
Interaksi sosial adalah suatu bentuk hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan timbal balik yang dilakukan antara individu dengan individu, Individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok dengan kontak sosial dan komunikasi sebagai sarana untuk mengungkapkan tujuan dari proses interaksi tersebut. Dengan pernyataan diatas makna dari sebuah interaksi sosial cukup luas sehinggah timbul berbagai pengertian yang berbeda dari beberapa sumber tetapi pada hakikatnya interaksi sosial ialah suatu proses sosial dalam masyarakat dalam memenuhi kebutuhanya dalam berbagai hal yang menuntut untuk berinteraksi dengan orang lain atau kelompok lain dan terjadi reaksi antara keduanya.



B.2.2. Syarat terjadinya interaksi sosial
a. Adanya kontak sosial (Social Contact)
Berasal dari kata con (bersama-sama) dan tango artinya menyentuh. Namun tidak secara harfiah bersentuhan badan,tetapi bisa lewat bicara., melalui telepon, telegram, surat, radio, dan sebagainya. Kontak sosial ada yang bersifat primer dan sekunder, kontak sosial bersifat primer adalah kontak yang terjadi ecara langsung dengan cara berbicara, tersenyum, berjabat tangan dan sebagainya, sedangkan kontak secara sekunder adalah kontak yang terjadi dengan perantara, misalnya melalui telepon, dan meminta tolong ecara perantara.
b. Komunikasi
Komunikasi adalah alat yang sangan urgen dalam sebuah interaksi sosial, oleh karena itu komunikasi dijadikan syarat dasar dalam proses interaksi sosial. Komunikasi adalah proses memberikan tafsiran pada prilaku orang lain dan maksud yang akan kita sampaikan yang kepada orang yang berwujud pembicaraan, gerak gerik badaniah atau siakap, perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan orang lain.

B.2.3. Jenis-jenis interaksi sosial
Interksi sosial dapat terjadi dalam kondisi apa pun dan dimana pun, yang pada saat itu kita membutuhkan orang lain untuk mengerti apa yang kita maksud deangn tujuan minta pertolangan atau yang lain. Jenis-jenis interaksi sosial yaitu intraksi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok dan kelompok dengan kelompok.
B.2.4. Ciri-ciri interaksi sosial
Apabila kita perhatika bahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa interaksi sosial mempunyai ciri-ciri sebgai berikut:
 pelakunya lebih dari satu orang
 ada komunikasi di antara pelaku melalui kontak sosial
 mempunyai maksud dan tujuan yang jelas, terlepas dari sama tidaknya tujuan tersebut dengan yang dipikirkan pelaku
 ada dimensi waktu (masa lampau, masa kini, dan masa datang) yang akan menentukan sikap aksi yang sedang berlangsung.




B.2.5. Faktor-faktor yang mendasari terbentuknya interaksi sosial

a. Sugesti adalah rangsangan atau pengaruh yang diberikan seorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti yang disugestikan tanpa harus berpikir lagi secara kritis dan rasional.
b. Imitasi adalah proses sosisal atau tindakan seseorang untuk meniru tindakan orang lain, baiak secara pemanpilan, sikap, maupun gaya hidup. Pertama kali proses imitasi terjadi pada lingkungan keluarga.
c. Identifikasi adalah upaya yang dilakukan individu untuk menjadi sama (identik) dengan individu lain yang ditirunya. Oleh sebab itu, proses identifikasi erat sekali kaitannya dengan imitasi. Pola meniru sudah begitu erat, sehingga si peniru sudah mengidentifikasi dirinya menjadi sama dengan orang yang ditirunuya.
d. Simpati adalah proses kejiwaan seorang individu yang merasa tertarik kepada seseprang atau kelompok orang karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya.
e. Motivasi adalah dorangan, rangsangan, pengaruh yang diberikan seseorang individu kepada individu lain, sehingga orang yang diberi motivasi menuruti apa yang dimotivasikan secara kritis, rasional dan rasa penuh tanggung jawab.
f. Empati adalah proses kejiwaan seseorang individu untuk larut dalam keadaan orang lain yang sedang dalam perasaan senang maupun duka.

B.2.6. Bentuk-bentuk interaksi sosial
Kerja sama dan konflik sosial adalah dua macam bentuk interaksi soaial yang bersifat sangat berlawanan. Semua garis besar interaksi soaial dapat kita klasifikasikan dalm dua hal. Yaitu interaksi sosaial yang bersifat asosiatif dan interaksi sosial yang bersifat disosiatif.

a. Interaksi Sosial yang Bersifat Asosiatif
Interaksi sosial yang mengarah kepada bentuk kerja sama seperti, kerja sama, akomodasi, asimilasi, dan akulturasi.
1) Kerja sama adalah bentuk utama dari proses interaksi sosial karena pada dasarnnya individu atau kelompok melaksanakan interaksi sosial untuk memenuhi kebutuhan bersama. Bentuk-bentuk kerjasama antara lain:
 Bargaining yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi atau lebih.
 Cooptation yaitu penerimaan unsur-unsur baru dalam kepemimpinan dari suatu organisasi untung menghindari kegoncangan dalam stabilitas organisasi tersebut.
 Coalition yaitu gabungan antara dua organisasi atau lebih yang mempunyai tujuan yang bersama.
 Joint venture yaitu kerjasama dalam usaha proyek-proyek tertentu.

2) Akomodasi adalah proses pertentangan atau konflik untuk mencapai kestabilan. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga pihak lawan tidak kehilangan kepribadiaan.

Tujuan akomodasi adalah
 mengurangi pertentangan akibat perbedaan paham
 mencegah meledaknya pertentangan untuk sementara waktu, dan
 mewujudkan kerjasama antara kelompok-kelompok yang hidup terpisah akibat pisikologis secara kultural dan mengusahakan peleburan kelompok-kelompok sosial yang terpisah.
Akomodasi mempunyai bentuk-bentuk sebagai berikut.
a) Coercion yaitu suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan karena ada paksaan.
b) Compromise yaitu bentuk akomodasi di mana masing-masing pihak yang terlibat mengurangi tuntutanya.
c) Arbitrase (arbitration) yaitu cara mennyelesaikan konflik melalui pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak yang bertikai, keputusannya bersifat mengikat.
d) Toleransi yaitu sikap saling menghargai dan pendirian masing-masing pihak.
e) Mediasi yaitu menyelesaikan konflik dengan pihak ketiga yang netral yang berfungsi sebagai penasehat. Keputusan pihak ketiga ini tidak mengikat.
f) Konvernsi yaitu penyelesaian konflikapabila salah satu pihakbersedia mengalah dam mau menerima pendirian pihak lain.
g) Konsiliasi yaitu penyelesaian konflik dengan jalan mempertemukan pihak-pihak yang bertentangan dengan perundingan agar memperoleh kesepakatan bersama.
h) Ajudikasi yaitu penyelesaian konflk di pengadilan.
i) Stalemate yaitu pihak-pihak yang bersengketa mempunyai kekuatan yang seimbang, lalu berhenti pada suatu posisi tertentu. Hal ini terjadi karena keduanya tidak ada harapan untuk maju atau mundur.
j) Segregasi yaitu upaya untuk saling memisahkan diri dan saling menghindar di antara diantara pihak-pihak yang bertentang dalam rangka mengurangi ketegangan.
k) Cease fire yaitu menangguhkan permusuhan atau peperangan dalam jangka waktu tertentu, sambil mengupayakan terselenggaranya penyelesaian konflik, diantara pihak-pihak yang bertikai.
l) Dispasement yaitu usaha mengakhiri konflik dengan mengalihkan pada objek masing-masing.

3) Asimilasi adalah proses yang tapabila ada kelompok masyarakat dengan lataer belakang yang berbeda, saling bergaul secara interaktif dalam jangka waktu yang lama. Dengan adanya proses asimilasi kebudayaan asli akan melebur menjadi kebudayaan baru yang merupakan penyatuan kebudayaan dari masyarakat.

4) Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul apabila suatu kelompok masyarakat denang suatu kebudayaannyadihadapkan pada unsur-unsur kebudayaan asing. Dengan demikian unsur-unsur kebudayaan asing melebur kedalam kebudayaan asli.

b. Interaksi Sosial yang Bersifat Disosiatif
Interaksi sosial yang bersifat disosiatif mengarah kepad bentuk-bentuk pertentangan atau konflik yang berwujud persaingan, kompetisi, kontravensi dan permusuhan.

1) Persaingaan (kompetisi) adalah suatu proses sosial yang melibatkan individu atau kelompok dalam mencapi keuntungan melalui bidang kehidupan deangan menggunakan norma-norma yang telah ada tanpa ancaman dan paksaan.

2) kontravensi adalah bentuk proses sosial yang berada diantara persaingan dan pertentangan atau konflik.

3) Permusuhan adalah keadaan yang membuat salah satu pihak merintangi atau menjadi penghalang bagi individu atau kelompok dalam melakukan kegiatan tertentu.

B.2.7 Bentuk-bentuk konflik
a) Konflik individual adalah konflik yang terjadi antara individu satu dengan individu lain disebabkan karena benturan kepentingan.
b) Konflik antar kelas sosial adalah konflik yang terjadi antara kelas yang satu dengan kelas yang lain, misalnya kelas pengusaha dengan kelas buruh.
c) Konflk rasial adalah konflik yang terjadi karena perbedaan kepentingan antara ras yang satu dengan ras yang lain.
d) Konflik politik adalah yang konflik yang terjadi apabila suatu kelompok dengan kelompok lain mempunyai kepentingan yang sama , dalam hal bagaimana mencari kekuasaan dalam segalah bidang.
e) Konflik internasional adalah konflik yang terjadi antara bangsa yang satu dengan yang alaian karena benturan kepentingan.

B.2.8 Tindakan sebagai unsur interaksi sosial

Interaksi sosial terdiri atas dua unsur, yaitu tindaka sosial dan keterkaitan antara tindakan sosial. Tindakan sosial adalah unsure pembentuk interaksi sosial. Tindakan sosial merupakan tindakan yang bermana, yakni tindakan yang dilakukan seseorang dengan memperhitungkan keberadaan orang lain sebagai objek dari tindakan tersebut sehingga tindakan tersebut akan menpunyai tujuan yang jelas.

Jenis-jenis tindakan sosial:
1) Rasionalitas instrumental, tindakan ini mempunyai tujuan yang jelas dan rasional dan tindakanya dilakukan dengan perencanaan yang sudah dibuat terlebih dahulu.
2) Rasionalitas yang berorientasi nilai , tindakan ini dilakukan dengan pemahaman nilai yang sudah ditanamkan dalam dirinya yang bersifat absolute. Contoh tindakan ini Seperti beribadah.
3) Tindakan tradisional, tindakan ini kurang rasional karena semua yamng dilakukan dalam tindakan ini hanya mengikuti tradisi nenek moyang daerah tersebut, tanpa mempertimbangkan apa manfaatnya dan keburukannya.
4) Tindakan afektif, tindakan ini bersifat sepontan didominasi oleh perasaan seseorang tanpa refleksi pengetahuan atau perencanaan sadar.seperti gemetar karena ketakutan, dll.

C. Sistem Sosial
C.1 Pengertian sistem
Konsep yang menjelaskan:
Konsep yang menjelaskan:
 Suatu kompleksitas dari saling ketergantungan antar bagian-bagian,komponen-komponen, dan proses-proses yang melingkupi aturan-aturan tata hubungan yang dapat dikenali.
 Suatu tipe serupa dari saling ketergantungan antar kompleksitas tersebut dengan lingkungan sekitarnya

C.2 Ciri-ciri khusus dari satu sistem

Ciri-Ciri khusus Dari satu sistem adalah:
a. Sistem terdiri dari banyak bagian/komponen.
b. Komponen-komponen sistem saling berhubungan satu sama lain dalam pola saling ketergantungan.
c. Keseluruhan sistem lebih dari sekadar penjumlahan dari komponen-komponennya. (lebih kea rah kualitas. kontribusi dari komsumen yang satu dan yang lain)

Talcott Parsons : Sistem sebagai sebuah pengertian yang menunjuk pada adanya saling ketergantungan antara bagian-bagian, komponen-komponen, dan proses-proses yang mengatur hubungan tersebut. Parsons menambahkan karakteristik lain dari suatu sistem yaitu bahwa sistem sosial cenderung akan selalu mempertahankan keseimbangan.
(katup pengaman AGIL: Adaptation, goal attainment, integration, latent pattern maintenance).
Goal attainment: tujuan yang ingin dicapai
Integration: Kemampuan untuk berintegrasi
Latent pattern maintenance: pola-pola yang tidak kelihatan
(Tercipta social order: keteraturan).

Dalam konsep saling ketergantungan ciri-ciri antara lain:
1.Paling kurang ada dua bagian atau lebih yang saling menjadi gantungan bagi yang lainnya.
2.Dalam konsep saling ketergantungan kata “saling” tidak harus diinterpretasikan sebagai keadaan yang memperlihatkan keseimbangan murni, misalnya 50% berbanding 50%.
3.Dalam konsep saling ketergantungan terkadang adanya saling membutuhkan dengan pengertian bahwa saling membutuhkan itu tidak selamanya harus seimbang oleh sebab itu kebutuhan satu elemen atau bagian erat berkaitan dengan elemen lainnya dalam sistem tersebut.

Menurut Auguste Comte beberapa pokok pikiran penting yang terdapat dari organisma biologis ada kesamaanya dengan organisasi sosial. Alasan Comte:
1. Sosiologi dan biologi mempunyai hubungan yang sangat erat karena keduanya mempelajari organisma. Biologi mempelajari organisma tubuh organik sedangkan sosiologi mempelajari masyarakat organic atau organisma sosial.
2. Begitu dekatnya biologi dan sosiologi sehingga yang disebut dengan istilah masyarakat atau organisma sosial adalah terdiri dari keluarga-keluarga sebagai elemen atau sel, kelas-kelas atau lapisan dalam masyarakat adalah kelenjar-kelenjar, kota adalah organ-organnya.
3. Sosiologi dalam pandangan Comte merupakan ilmu poditif atau ilmu empiric yang dapat menggunakan metode ilmiah untuk membuat masyarakat menjadi lebih baik.
4. Comte sangat menganjurkan keteraturan sosial dan keseimbangan dan membenci kekacauan.

Pokok-poko pikiran H. Spencer
1. Proses evolusi berjalan dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks. Ini merupakan analogi berarti sebagai organisma sosial masyarakat berkembang dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang lebih kompleks.
2. Mencakup perbandingan antara individu sebagai makhluk biologis dan masyarakat sebagai makhluk sosial.

Alasan analogi Spencer.
1. Masyarakat bertumbuh dan berkembang dar yang sederhana ke yang kompleks.
2. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat berjalan secara pelan-pelan atau evolusioner.
3. Walaupun jumlah institusi sosial itu bertambah banyak hubungan antara institusi dengan institusi lainnya tetap dipertahankan karena semua institusi itu berkembang dari institusi yang sama.
4. Seperti halnya bagia dalam organisma biologis, bagian-bagian organisma sosial itu memiliki sistem-sistemnya sendiri (sebagai sub sistem) yang dalam beberapa hal tertentu dia berdikari.

Kehidupan sosial sebagai suatu sistem sosial.
Kehidupan sistem sosial harus dipandang sebagai suatu sistem yaitu sistem sosial yakni suatu keseluruhan bagian-bagian atau unsure-unsur yang saling berhubungan dalam satu kesatuan. Kehidupan sosial adalah kehidupan bersama manusia atau kesatuan manusia yang hidup dalam suatu pergaulan oleh karena itu kehidupan sosial pada dasarnya ditandai oleh:
a. Adanya manusia yang hidup bersama yang dalam ukuran minimalnya berjumlah dua orang atau lebih.
b. Manusia tersebut bergaul atau berhubungan dan hidup bersama dalam waktu yang cukup lama oleh karena itu terjadilah adaptasi dan pengorganisasian perilaku serta munculnya suatu perasaan sebagai kesatuan.
c. Adanya kesadaran bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
d. Suatu sistem kehidupan bersama
Ciri-ciri interaksi sosial menurut Loomis.
1. Pihak yang berinteraksi berjumlah lebih dari satu orang
2. Adanya komunikasi antara pihak-pihak tersebut dengan menggunakan lambing-lambang tertentu
3. Adanya dimensi waktu yang mencakup masa lampau, masa kini, dan masa mendatang
4. Adanya tujuan-tujuan tertentu
“Kehidupan sosial dapat dilihat dalam struktur sosial”
Struktur sosial adalah suatu pergaulan hidup manusia meliputi barbagai tipe kelompok yang terjadi dari orang banyak dan meliputi pula lembaga-lembaga dimana orang banyak tadi ambil bagian.
Di dalam struktur sosial terdapat pranata atau lembaga sosial.
Talcot parsons mengatakan pranata-pranata atau pola-pola kelembagaan adalah suatu aspek pokok mengenai apa yang digeneralisasikan merupakan struktur sosial.
Kelompok sosial
Salah satu wujud dari struktur sosial adalah kelompok sosial. Kelompok sosial merupakan kumpulan manusia tetapi bukan sembarang kumpulan. Suatu kumpulan manusia dapat dikatakan sebagai kelompok sosial apabila memenuhi criteria sebagai berikut:
1. Setiap anggota kelompok tersebut harus sadar bahwa dia merupakan sebagian dari kelompok yang bersangkutan.
2. Adanya hubungan timbal balik antara yang satu dengan lainnya dalam kelompok itu.
3. Adanya suatu factor yang dimiliki bersama oleh anggota-aggota kelompok itu sehingga hubungan antara mereka bertambah erat.
4. Berstruktur, berkaidah, dan mempunyai pola perilaku.

Lembaga sosial (menurut selo soemarjan)
Pranata sosial (menurut Koentjaraningrat)
Lembaga sosial/lembaga kemasyarakatan adalah himpunan dari norma-norma dari segala tingkatan yang berkisar pada suatu kehidupan pokok di dalam kehidupan masyaarakat.
Menurut Rosed dan Warren, lembaga sosial adalah pola-pola yang telah mempunyai kedudukan tetap atau pasti untuk mempertemukan macam-macam kebutuhan manusia yang muncul dari kebiasaan-kebiasaan dengan mendapatkan persetujuan dengan cara-cara yang sudah tidak dapat dipungkiri lagi untuk memenuhi konsep kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan suatu struktur.
“Pranata keluarga, pendidikan, ekonomi, agama” Menurut Koentjaraningrat.
Margono Slamet: pranata keluarga, ekonomi, pemerintahan, agama dan norma-norma, pendidikan dan penerangan umum, dan kelas masyarakat.
Unsur-unsur sistem sosial
Suatu sistem sosial yang menjadi pusat perhatian barbagai ilmu sosial pada dasarnya merupakan wadah dari proses-proses dan pola-pola interaksi sosial.
Menurut Soryono Soekanto unsur-unsur pokok suatu sistem sosial adalah:
1. kepercayaan yang merupakan pemahaman terhadap semua aspek alam semesta yang dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak.
2. Perasaan dan pikiran yaitu suatu keadaan kejiwaan manusia yang menyangkut keadaan sekelilingnya baik yang bersifat alamiah maupun sosial.
3. Tujuan merupakan suatu cita-cita yang harus dicapai dengan cara mengubah sesuatu atau mempertahankannya.
4. Kaidah atau norma yang merupakan pedoman untuk bersikap/berperilaku secara pantas.
5. Kedudukan dan peranan: kedudukan merupakan posisi-posisi tertentu secara vertical sedangkan peranan adalah hak-hak dan kewajiban-kewajiban baik secara structural maupun prosesual.
6. Penguasaan yang merupakan proses yang bertujuan untuk mengajak, mendidik, atau bahkan memaksa masyarakat untuk mentaati kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku.
7. Sanksi-sanksi positif dan negative.
8. Fasilitas
9. Keserasian dan kelangsungan hidup
10. Keserasian antara kualitas hidup dengan lingkungan


C.3 Sifat dan proses utama dalam sistem sosial

1. Sifat terbuka sistem sosial. Sistem sosial pada umumnya di dalamnya terjadi proses yang saling pengaruh mempengaruhi, hal ini terjadi karena adanya saling keterkaitan antara satu unsur dengan unsur lainnya atau satu bagian dengan bagian lainnya atau antara subsistem dengan subsistem lainnya.
Menurut Margono slamet mengatakan suatu sistem sosial dipengaruhi
1.Ekologi, tempat, dan geografi (dimana masyarakat itu berada)
2.Demografi yang menyangkut populasi, susunan, dan cirri-ciri populasi
3.Kebudayaan menyangkut nilai-nilai sosial, sistem kepercayaan dan norma-norma dalam masyarakat
4.Kepribadian meliputi sikap mental, semangat, temperamen dan cirri-ciri psikologis masyarakat
5.Waktu
Emille Durkheim
Konsep saling ketergantungan
syaratnya: melihat masyarakat sebagai suatu kesatuan
masyarakat dilihat sebagai fakta sosial
Fakta sosial adalah kumpulan norma, nilai, dan sebagainya yang memaksa anggota masyarakat untuk tunduk dan patuh.
Solidaritas sosial: Keadaan menjadi satu atau bersahabat yang muncul karena adanya tanggung jawab bersama dan kepentingan bersama diantara para anggotanya
Tipe solidaritas sosial terbagi: solidaritas mekanik (biasanya di pedesaan) dan solidaritas organik (biasanya di perkotaan)
“social consciousness” = kesadaran sosial
Kesadaran sosial ini yaitu sadar akan adanya kelompok dimana kita termasuk di dalamnya.
Integrasi sosial : membuat unsur-unsur tertentu menjadi satu kebutuhan yang bulat dan utuh. Contoh konkret membuat masyarakat menjadi satu kesatuan yang bulat
Integrasi sosial: suatu usaha untuk membangun ketergantungan yang lebih erat antara bagian-bagian atau unsur-unsur dari masyarakat sehingga tercipta suatu kesadaran yang lebih harmonis yang memungkinkan terjalinnya kerja sama dalam rangka mencapai tujuan yang telah disepakati bersama.

Kesadaran kolektif : sadar akan adanya kelompok
Elemen-elemen dasar yang terdapat dalam konsep kesadaran kolektif
1. Adanya perasaan senasib dalam satu komunitas
2. Adanya kewajiban moral untuk melaksanakan tuntutan-tuntutan yang diberikan oleh komunitas
Talcot parsons membagi dua dikotomi
1. Masyarakat tradisional
2. Masyarakat modern
Sifat-sifat masyarakat di atas disebut variable berpola.
Masyarakat tradisional cirri-cirinya:
1. Afektif
2. Berorientasi kolektif
3. Partikularistik= bersifat khusus
4. Askriptif : kedudukan seseorang dilihat dari latar belakang sejarah/keluarganya
5. Kekaburan/amorf: pesan yang dilakukan para anggota tidak special
Masyarakat modern cirri-cirnya
1. Netral afektif : tidak berdasarkan perasaan
2. Berorientasi nilai
3. Universalistik: hubungan sosialnya tidak bersifat khusus
4. Prestasif: kedudukan seseorang berdasarkan prestasi
5. Spesifik: pekerjaan jelas

C.4 Masyarakat mahluk (Plural society)

J.S Furnival
Menurrut J.S Furnival, pada masa Hindia Belanda masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yaitu suatu masyarakat yang terdiri atas dua atau lebih elemen yang hidup sendiri-sendiri tanpa ada perbedaan satu sama lain di dalam satu kesatuan politik. Di dalam kehidupan politik pertanda yang paling jelas dari masyarakat Indonesia yang bersifat majemuk adalah tidak adanya kehendak bersama. Sebagai masyarakat majemuk, mereka yang berkuasa dan mereka yang dikuasai memiliki perbedaan ras. Orang-orang Belanda sebagai elit yang memerintah, orang-orang China sebagai kelas menengah, sedangkan orang-orang pribumi sebagai kelompok terbesar merupakan kelas bawah.
Pada masa itu, masyarakat Indonesia secara keseluruhan terdiri dari elemen-elemen yang terpisah satu sama lain oleh karena perbedaan ras. Masing-masing lebih merupakan kumpulan individu-individu, sebagai suatu keseluruhan yang bersifat organis. Sebagai individu kehidupan sosial mereka tidak utuh. Orang-orang Belanda pada masa itu, datang ke Indonesia untuk bekerja. Orang-orang China datang ke Indonesia untuk kepentingan Ekonomi. Sementara orang pribumi, tidak lebih sebagai pelayan di negerinya sendiri. Kelompok masyarakat ini, melalui agama, kebudayaan, dan bahasa masing-masing mempertahankan atau memelihara pola pikir dan cara-cara hidup mereka. Hasilnya berupa masyarakat Indonesia yang sebagai keseluruhan tidak memiliki kehendak bersama.
Pandangan lainnya mengenai masyarakat majemuk juga dikemukakan oleh Cliforts goerts. Dia mengemukakan bahwa masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terbagi-bagi dalam sub-sub sistem yang kurang lebih berdiri sendiri. Dimana masing-masing subsistem terikat ke dalam ikatan-ikatan yang bersifat primordial. Selain itu Piere L. Van den Bergher juga mengemukakan beberapa cirri sebagai sifat dasar masyarakat majemuk, yaitu:
1. Terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki sub kebudayaan yang berbeda satu sama lain.
2. Memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat noncomplementer
3. Kurang mengembangkan consensus diantara para anggotanya terhadapa nilai-nilai yang bersifat dasar
4. Secara relatif seringkali mengalami konflik-konflik di antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain
5. Secara relative integrasi sosial tumbuh diatas paksaan dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi
6. Adanya dominasi oleh suatu kelompok atas kelompok-kelompok lain.
Ditinjau dari struktur masyarakat secara horizontal kenyataan menunjukkan pada masyarakat kita ada kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan perbedaan-perbedaan suku bangsa, etnik, perbedaan-perbedaan agama, perbedaan-perbedaan adapt istiadat, perbedaan-perbedaan kedaerahan. Sedangkan secara vertical adanya perbedaan-perbedaan antara lapisan atas dan lapisan bawah cukup tajam
Melihat kondisi ini, hal diatas ini juga dapat merupakan sumber konflik.
Dari analisa tadi melahirkan dua toeri yaitu : teori konsensus dan teori konflik.

Teori yang saling bertentangan.
Model masyarakat dalam model konsensus
1.Norma dan nilai merupakan elemen-elemen dasar dalam kehidupan sosial
2.Konsekuensi kehidupan sosial adalah komitmen
3.Masyarakat pasti kompak
4.Kehidupan sosial tergantung pada solidaritas
5.Kehidupan sosial didasarkan pada kerja sama dan saling memperhatikan atau saling membutuhkan
6.Sistem sosial tergabung pada konsensus
7.Masyarakat mengakui adanya otoritas yang abash
8.sistem sosial bersifat integratif
9.Sistem sosial cenderung bertahan
Model masyarkat menurut model konflik
1.Kepentingan merupakan elemen dasar dalam kehidupan sosial
2.Konsekuensi kehidupan sosial adalah paksaan
3.Kehidupan sosial pasti terpecah belah
4.Kehidupan sosial menghasilkan oposisi, perpecahan, dan permusuhan
5.Kehidupan sosial menghasilkan konflik yang berstruktur
6.Kehidupan sosial menghasilkan kepentingan yang sudah dikotak-kotakkan
7.Diferensiasi sosial menghasilkan kekuasaan
8.Sistem sosial merusak integrasi dan padat kontradiksi
9.Sistem sosial cenderung berubah
Model integrasi
1.Setiap masyarakat secara relative bersifat langsung
2.Setiap masyarakat merupakan struktur elemen-elemen yang terintegrasi dengan baik
3.Setiap elemen dalam suatu masyarakat memiliki suatu fungsi yaitu menyumbang pada bertahannya sistem itu
4.Setiap struktur sosial yang berfungsi di dasarkan pada konsensus nilai di antara para anggotanya
Model Konflik
1.Setiap masyarakat kapan saja tunduk pada proses-proses perubahan sehingga perubahan sosial ada di mana-mana
2.Setiap masyarakat kapan saja memperlihatkan perpecahan dan konflik-konflik sosial ada di mana-mana
3.Setiap elemen dalam masyarakat menyumbang pada disintegrasi dan perubahan
4.Setiap masyarakat didasarkan pada paksaan atas beberapa anggotanya oleh orang lain
Lewis Kauser menganalisis fungsi konflik dalam masyarakat dan pendapatnya adala sebagai berikut:
1.Konflik dapat merupakan cara/alat untuk mempertahankan, mempersatukan, mempertegas sistem sosial yang ada
2.Dalam setiap masyarakat seringkali berkembang satu atau beberapa budaya
3.mekanisme untuk meredakan ketegangan yang ada, sehingga struktur itu sebagai keseluruhan tidak terancam. Mekanisme oleh Causer disebut dengan safetywalfer atau katup pengaman
4.Causer juga mengmukakan yang sangat menarik untuk kita ketahui yaitu mengenai jenis konflik. Ada konflik realistik dan non realistic. Konflik realistik yang muncul dengan alasan yang tidak jelas.

Istilah integrasi berasal dari kata/bahasa latin “integrare” yang memiliki arti memberi tempat pada suatu keseluruhan
Integrare (kata kerja). Integritas (kata benda), kemudian keduanya menjadi kata sifat (integer). Integritas artinya kebulatan/keutuhan. Istilah integrasi berarti membuat unsur-unsur tertentu menjadi satu kesatuan yang bulat dan utuh
Integrasi sosial: membuat masyarakat menjadi satu keseluruhan yang bulat. Kegiatan tersebut dapat digunakan pada masyarakat mikro, meso, makro.
Masyarakat mikro: misalnya keluarga
Masyarakat meso: misalnya organisasi
masyarakat makro: misalnya bangsa

Unsur-unsur yang mendukung masyarakat makro (bangsa)
1.Adanya sejumlah kelompok etnis, tiap-tiap kelompok merasa dirinya berasal dari keturunan yang berbeda. Perbedaan itu bisa dilihat dari sosok yang berbeda (kulit, bentuk, tubuh)
2.adanya perbedaan corak budaya. Perbedaan ini terlihat pada bahasa sehari-hari, adat istiadat, pola-pola kelakuan, dan sebagainya
3.adanya perbedaan agama dan kepercayaan. Tiap suku mempunyai agama dan kepercayaan asli yang berbeda. Suku yang tidak mempertahankan agama asli, kemudian memeluk agama dan kepercayaan diri
4.adanya perbedaan kekayaan alam
unsur-unsur yang mendorong integrasi sosial
1.daerah-daerah yang kumulatif luas dan ternyata mempunyai sifat-sifatnya persamaan, misalnya situasi klimatologis, hidrologis serta flora dan fauna
2.pengalaman yang sama pada masa silam (pengalaman politik, pengalaman yang sama mengalami bencana)
3.kemauan bersama untuk menjadi satu bangsa, dengan satu sosial budaya yang sama, tanpa mengorbankan nilai-nilai budaya kedaerahan
4.ada ideologi dan undang-undang dasar yang sama yang dinyatakan secara konkret dengan satu lambing nasional


C.5 Definisi integrasi

Integrasi statis adalah keadaan kesatuan dan persatuan sejumlah kelompok etnis dan kelompok sosial yang beragam, di mana masing-masing kelompok tempat yang sesuai dalam struktur dan fungsi sosial budaya pada lapisan yang lebih tinggi
Integrasi dinamis didefinisikan sebagai keadaan kesatuan dan persatuan sejumlah kelompok etnis dan kelompok sosial beserta sistem sosial budaya mereka, dalam struktur sedemikian rupa, sehingga pelaksanaan fungsinya dapat disesuaikan dalam situasi dan kondisi yang berubah-ubah dalam mencapai tujuan bersama

Keuntungan dan kerugian sistem integrasi statis
Etnik yang tertinggal dan terisolasi dapat ditingkatkan ke tingkatan yang lebih cerdas, beradab, setaraf dengan etnik-etnik yang lebih maju
Berkat ketaatannya yang disiplin dan seragam di segala bidang kehidupan, penyelewengan dapat dikurangi sehingga tercipta ketenangan dan keamanan
Sisi negatif integrasi statis
Suku atau golongan yang sudah maju dan berkebudayaan tinggi, merasa perkembangan dihambat karena harus mengikuti ritme resmi yang sama dengan golongan lain yang belum maju


C.6 Sistem sosial di Indonesia

Kita semua tahu bahwa masyarakat Indonesia adalah bangsa yang majemuk karena didalamnya terdapat banyak perbedaan suku bangsa, agama adat, bahasa daerah dan latar belakang kehiudupan sosial mereka, ini semua yang membuat masyarakat Indonesia menjadi bangsa yang majemuk, di ungkapkan oleh Furnivall pada masa pemerintahan Hindia-Belanda masyarakat Indonesia terbagi dalam tiga golongan yaitu golongan masyarakat Belanda, golongan masyarakan Tionghoa dan golongan masyarakat Pribumi mereka mempunyai pola dan nilai-nilai yang menjadi dasar kehidupan mereka yang sangat mengakar kuat dalam kehidupan bernasyarakat. Dengan adanya nilai-nilai yang dianut dari taip golongan sulit sekali pada saat itu terjadi pengintegrasian mereka mengaanggap kelompoknya paling baik, yang menyebabkan tidak adanya kehendak bersama atau permintaan sosial yang dihayati bersama oleh seluruh elemen masyarakat (common social demand) mereka hanya bekerjasama dalam masalah ekonomi yang akhirnya menghantarkan mereka pada cara bagai mana memenuhi kebutuhan mereka seperti golongan Belanda sebagai masyarakat perkebunan, golongan Pribumi sebagai mastarakat pertanian dan golongan Tionghoa sebagi golongan pemasaran diantara kedua golongan tersebut. Semua yang kita gambarkan adalah gambaran dari masyarakat Indonesia pada masa pemerintahan Hindia-Belanda, sedangkan keadaan masyarakat pada masa kini gambaran pada masa dulu dijadikan rujukan untuk melihat kemajemukan masyarakat Indonesia pada masa yang sekarang dengan gambaran tersebut kita akan dapat mendiskripsikan masyarakat majemuk sebagi masyarakat yang mempunyai beberapa karateristik yang di ungkapkan oleh Pierre L. van den Berghe sebagai sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk, yaitu: 1) Adanya bentuk-bentuk dalam kedalam kelompok yang memiliki sub kebudayaan yang berbeda, 2) Memiliki struktur sosial yang dan lembaga yang bersifat non parlementer, 3) Kurang mengembangkan konsensus diantara para anggotanya terhadap nilai-nilai yang bersifat dasar, 4) Seringannya konflik antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. 5) Secara relative integrasi sosial tumbuh karena paksaan dan saling ketergantungan didalam bidang ekonomi, 6) adanya dominasi pilitik oleh suatu kelompok atas kelompok lain.
Setelah masa revolusi kemerdekaan tidaklah sama dengan pada masa Hindia-Belanda masyarakat Indonesia setelah revolusi perbedaanya atau kemajemukanya lebih bersifat internal dalam golongan Pribumi, dalam golongan Pribumi atau masyarakat Indonesia sendiri mengalami pluralisme yang cukup beragam. Kemajemukan masyarakat Indonesia yang bersifat horizontal yang mempengaruhi pluralisme dalam masyarakat Indonesia mempunyai faktor-faktor antara lain, yakni.
Factor yang pertama yang menyebabkan keberagama masyarakat Indonesia adalah adanya keadaan wilayah Indonesia diatas kurang lebih 3.000 pulau yang tersebar di seluruh Indonesia sepanjang 3.000 mil dari Timur ke Barat dan lebih dari 1.000 mil dari Utara ke Selatan, merupakan faktor yang sangat mempengaruhi terciptanya pluralisme suku bangsa di Indonesia yang sekarang, suku bangsa yan g terbesar diindonesia menurut Skinner, yakni Jawa, Sunda, Madura, Minangkabau dan bugis masing-masingg memiliki jumlah anggota 36 juta, 12,5 juta, 5 juta, 2,7 juta, dan 2,4 juta orang pada tahun 1956. Delapan suku yang lain memiliki jumlah anggota antara 750.000 sampai 2 juta orang pada tahun yang sama, termasuk Bali dengan 1,6 juta orang, Sumbawa memeiliki jumlah anggota disekitar 135.000 orang. Kendati angka tersebut untuk menggambarkan keadaan puluan tahun yang lalu, akan tetapi dengan perkiraan dengan angka kelahiran dan kemataian selama ini memiliki rata-rata bagi bagi kebanyakan suku bangsa yang ada di Indonesia.
Faktor yang kedua adalah kenyataan bahwa Indonesia terletak diantara samudera Indonesia dan samudra pasifik, sangat mempengaruhi pluralisme agama. Letak bangsa Indonesia yang strategis membuat Indonesia sering disinggahi oleh para bedagang dari belahan dunia, Indonesia yang merupakan penghasil rempah-rempah yang banyak menjadi kebutuhan masyarakat Dunia khususnya masyarakat Eropa menjadi salah satu tujuan utama perdagangan Dunia. Pengaruh yang pertama kali menyentuh masyarakat Indonesia adalah kebudayaan Hindu dan Budha dari India sejak 400 tahun sesudah masehi, Hindu dan Budha mempengaruhi budaya bangsa Indonesia yang akhirnya terjadi asimilasi kebudayaan yang melebur menjadi satu budaya yang baru, di pulau Jawa dan Bali Agama Hindu dan Budha tertanam dengan kuat sampai sekarang. Pengaruh budaya Islam mulai memeasuku masyarakat Indonesia sejak abad ke-15 pengaruh agama Islam dapat ditrima dan tertancap dimana agama Hindu dan Budha tidak cukup kuat mempengaruhi masyarkat daerah tersebut, seperti Sumatra, Banten, Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kebudyaan barat mulai memasuki masyarakat Indonesia melalui kedatangan bangsa Portugis pada permulaan abad ke-16. Sebenarnya kedatangan mereka ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah di daerah kepulauan Maluku, kegiatan tersebut akhirnya menanamkan nilai-nilai agama yaitu agama Katolik didaerah tersebut, Portugis yang keluar dari daerah tersebut kira-kira tahun 1600-an, maka pengaruh agama katolik digantikan dengan Potestan. Belandalah yang sebenarnaya menancapkan nilai-nilai agama Protestan karena sikapnya yang lebih lunak. Semua dari pengaruh agama tersebut terpecah-pecah kedalam beberapa daerah di Indonesia seperti didaerah luar jawa timbulnya golongan islam yang modernis di daerah Jawa Timur, sedngkan golongan-golongan islam yang tradisional berada di daerah-daerah pedalaman Jawa Timur dan Jawa Tengah, golongan agama Kristen (Katolik dan Protestan) di daerah Sulawesi Utara, Maluku, NTT, Tapanuli dan Sedikit daerah Kalimantan Tengah. Golongan Hindu ( Hindu-Darma) terutama di pulau Bali.
Faktor yang ketiga adalah factor Iklim yang berbeda-beda dan struktur tanah yang tidak sama diantara daerah diseluruh di Indonesia, ini adalah faktor yang menyebabkan pluralitas yang ada dalam masyarakat Indonesia. Perbedaan curah hujan dan kondisi tanah yang meanyebabkan tercptanya dua macam lingkungan yang ekologis yang berada di Indonesia, yakni daerah pertanian dan daerah perkebunan perbedaan lingkungan ekologis tersebut yang menimbulkan kontras antara Jawa dan luar Jawa dalam bidang kependudukan, ekonomi, dan sosial-budaya. Kontras tersebut juga mempengaruhi pengadaan pangan yang mengpengaruhi keseluruhan pola perekonomian kedua daerah tersebut. Pulau Jawa dan Madura hanya memiliki luas daerah 132.174,00 kilometer persegi dengan kepadatan 314 pada tahun 1930 dan 455 pada tahun 1961, tidah cukup untuk pemilikan lahan pertanian yang cukup luas. Dengan tidak cukup luasnya daerah pertanian di Jawa maka Jawa sangat bergantung dengan daerah di luar Jawa dalam bidang ekonomi. Dalam pertanian dipulau Jawa yang membutuhkan sistem irigasi maka dulu pada saat pemerintahan Hindia-Belanda, pemerintah memberi alat irigari yang denga konsekuensi harus bekerjasama dengan golongan mastarakat pertanian, seperti pemerintah mempunyai alat-alat canggih yang berguna bagi masyarakat desa untuk tetap melestarikan mata pancahariannya tersebut maka dia harus meminta tolong pada pemerintahan untuk membantunya. Keadaan seperti itupun akhirnya tercermin dan membentuk suatu perbedaan kelompok yang pada masa sekarang adanya kelompok perkotaan dan kelompok perdesaan.
Kemajemukan masyarakat Indonesia juga bersifat vertikal yang di pengaruhi fakror ekomoni dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang saling melengkapi antara sector ekonomi modern dan ekomoni kota. Perbedaan antara kedua sector itu yang membawa kedua struktur yang pada akhirnya berakar dalam perbedaan antara struktur ekomoni kota yang cenderung bersifat modern dan struktur ekomoni desa yang bersifat tradisional, dari sinilah terjadi jarak antara keduanya yang akhirnya terbagi menjadi dua bagian yaitu antara kelompok orang modern dan orang tradisional yang semakin menimbulkan perbedaan secara vertical dalam kemajemukan masyarakat Indonesia. Stratifikasi antara golongan atas dan bawah timbul karena kontras antara keduanya dalam factor ekonomi. Dalam tingkat nasional perbedaan yang berakar ini apabila tidak cepat diatasi akan menimbulkan konflik yang berkepanjangan yang ujungnya akan mempengaruhi proses pengintegrasian yang sedang dilakukan antara keduanya. Kemajemukan yang bersifat vertikal inilah yang paling banyak menjadi sumberkonflik dalam masyarakat sekarang ini yang dapat mengganggu kestabilan sistem sosial masyarakat Indonesia.

D. Teori

D.1 Teori fungsional struktural (Talcott Parsons)
Robert Nisbet menyatakan : "Jelas bahwa fungsionalisme structural adalah satu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang" (Turner dan Mayarski, 1979).
Teori ini ialah sudut pendekatan yang menganggap bahwa masyarakat pada dasarnya , terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai, norma dan aturan kemasyarakatan tertentu, suatu general agreements yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat.
Pendekatan ini memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang secara fungsional terintegrasi ke dalam suatu bentuk ekuilibrium. Karena sifatnya demikian, maka aliran pemikiran ini disebut sebagai integration approach, order approach, equilibrium approach atau lebih populer disebut structural-functional approach .
D.2 Anggapan dasar teori fungsional struktural
Anggapan atau teori dasar, teori dasarnya yaitu :
1. Masyarakat adalah suatu sistem dari bagian-bagian yang saling berhubungan
2. Hubungan dalam masyarakat bersifat ganda dan timbal balik (saling mempengaruhi)
3. Secara fundamental,sistem sosial cenderung bergerak kearah equilibrium dan bersifat dinamis
4. Disfungsi/ketegangan sosial/ penyimpangan pada akhirnya akan teratasi dengan sendirinya melalui penyesuaian dan proses institusionalisasi
5. Perubahan-perubahan dalam sistem sosial bersifat gradual melalui penyesuaian. Bukan bersifat revolusioner
6. perubahan terjadi melalui 3 macam kemungkinan:
7. Pentesuaian system sosial terhadap perubahan dari luar (extra systemic change)
8. Pertumbuhan melalui proses diferensiasi struktural dan fungsional
9. Pememuan baru oleh anggota masayarakat
10. Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah KONSENSUS
Pendekatan Fungsionalisme Struktural awalnya muncul dari cara melihat masyarakat dengan dianalogikan sebagai organisma biologis. Auguste Comte dan Herbert Spencer melihat adanya interdependensi antara organ-organ tubuh kita yang kemudian dianalogikan dengan masyarakat. Sebagaimana alasan-alasan yang dikemukakan Herbert Spencer sehingga mangatakan masyarakat sebagai organisma sosial adalah:
a. Masyarakat itu tumbuh dan berkembang dari yang sederhana ke yang kompleks
b. Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat berjalan secara perlahan atau evolusioner
c. Walaupun institusi sosial bertambah banyak, hubungan antarsatu dan lainnya tetap dipertahankan kerena semua institusi itu berkembang dari institusi yang sama
d. Seperti halnya bagian dalam organism biologi, bagian-bagian dalam organisma sosial itu memiliki sistemnya sendiri (subsistem) yang dalam beberapa hal tertentu dia berdikari.
Pokok pikiran inilah yang melatar belakangi lahirnya pendekatan fungsionalisme-struktural yang kemudian mencapai tingkat perkembangannya yang sangat berpengaruh dalam sosiologi Amerika, khususnya di dalam pemikiran Talcott Parsons (1902-1979).
Dengan kata lain, suatu sistem sosial, pada dasarnya tidak lain adalah suatu sistem dari tindakan-tindakan. Ia terbentuk dari interaksi sosial yang terjadi di antara berbagai individu, yang tumbuh berkembang tidak secara kebetulan, namun tumbuh dan berkembang di atas consensus, di atas standar penilaian umum masyarakat. Yang paling penting di antara berbagai standar penilaian umum tersebut adalah norma-norma sosial. Norma-norma sosial itulah yang membentuk struktur sosial.
Sistem nilai ini, selain menjadi sumber yang menyebabkan berkembangnya integrasi sosial, juga merupakan unsur yang menstabilir sistem sosial budaya itu sendiri.
Oleh karena setiap orang menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi-situasi tertentu dalam bentuk norma-norma sosial, maka tingkah laku mereka kemudian terjalin sedemikian rupa ke dalam bentuk suatu struktur sosial tertentu. Kemudian pengaturan interaksi sosial di antara mereka dapat terjadi karena komitmen mereka terhadap norma-norma yang mampu mengatasi perbedaan pendapat dan kepentingan individu. Dua macam mekanisme sosial yang paling penting di mana hasrat-hasrat para anggota masyarakat dapat dikendalikan pada tingkat dan arah menuju terpeliharanya sistem sosial adalah mekanisme sosialisasi dan pengawasan sosial (social control).




E. Analisis

Dalam teory yang di gunakan oleh Person yaitu tentang pendekatan fungsional struktural sebenarnya masyarakat pada dasarnya , terintegrasi di atas dasar kata sepakat para anggotanya akan nilai, norma dan aturan kemasyarakatan tertentu, suatu general agreements yang memiliki daya mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan kepentingan di antara para anggota masyarakat. Dengan adanya masyarakat indonesia yang memiliki system sosial yang majemuk yang beragam baik secara vertical maupun horizontal yang di kenal dengan SARA (suku, agama, ras, ) yang semua itu ada dalam negara Indonesia semua itu tidak dapat di hindari tapi harus dihargain, karena negara kita dapat terbentuk dengan SARA tersebut, di sini kemampuan proses sosial yang kita kenal dalam bentuk, interaksi dapat mejadi alat dalam mengatasi perbedaan tesebut dengan adanya keseimbangan dalam interaksi maka system sosial Indonesia akan bergerak kea rah equilibrium yang menginginkan kedamaian yang abadi, dengan berpatokan kepada teory pendekatan fungsional struktural maka pada hakikatnya masyarakat akan melakukan suatu interaksi dalam kehidupannya yang menginginkan kehidupan yang sejahtera dan aman yang nantinya dapat memudahkan kehidupannya dari situlah timbul adanya kesepakatan bersama yang mengikat mereka dan pada akhirnya dapat mengintegarasikan mereka dalam system sosial yang telah di sepakati tersebut. Faktor yang paling penting dalam pengintegrasian suatu sistem sosial di Indonesia adalah nilai-nilai yang dianut masyarakat itu sendiri mereka yang menganggap nilai tersebut sebau nilai mutlak yang harus dijalankan, nilai-nilai tersebut yang menjadikan masyarakat terintegrasi dengan sendirinya dan menstabilkan system sosial budaya. Dengan menggunakan asumsi dasar yanga ada dalam pendekatan fungsional struktural maka kita akan dapat menganalisis system sosial Indonesia yang majemuk dengan mengnakan interaksi sebagai alat kesetabilan system sosial.
1. Masyarakat Indonesia adalah suatu bagian yang saling berhubungan, disi yang dimaksud saling berhubungan yaitu adanya suatu kebutuhan bersama yang mendorang untuk melakukan interaksi antara satu individu dengan individu yang lain dengan tidak memperdulikan apakah indiividu tersebut satu kelompok atau berbeda SARA.
2. Dengan adanya interaksi sosial dalam masyarakat Indonesia maka hubungan masyarakat menjadi timbale balik dan saling mempengaruhi satu sama lain
3. Sistem sosial dalam pendekatan fungsional struktural dalam masyarakat majemuk cenderung menujua keseimbangan yaitu ingin tercapai kstabilan sosial
4. Dengan adanya interaksi dalam membentuk suatu kesepakatan maka adanya perbedaan atau masalah sosial dapat teratasi dengan sendirinya karena, setiap individu telah terikat dalam nilai-nilai yang telah di sepakati bersama sebelumnya.
5. Apabila ada suatu perubahan yang di pengaruhi dari dalam maupun luar hanya bersifat kecil atau gradual yang aka disesuakain oleh system sosial yang telah dianut bersama.
6. Proses sosial dalam bentuk interaksi sosial akan dapat mengintegarasikan masyarakat Indonesia yang majemuk dalam kata sepakat.
Dengan mengadopsi proses sosial yang berbentuk interaksi sosial yang digunakan sebagai alat dalam menyeinbangkan system sosial yang dipandang dengan teory pendekatan fungsional struktural maka system sosial Indonesia yang majemuk akan berjalan dengan stabil meskipun ada masalah makn masalah itu mudah untuk diatasi dengan menggunakan lembaga-lembaga yang ada dalm system sosial tersebut melalui proses interaksi.

F. Kesimpulan

Keadaan bangsa Indonesia yang terdiri dari beraneka ragam budaya, ras, agama, suku yang semua itu di pengaruhi oleh keadaan geografis, letak Indonesia antara samodera dan samodera Pasifik (pusat lalu lintas perdagangan dan persebaran agama), iklim yang berbeda (berakibat plural secara regional), curah hujan dan kesuburan tanah yang berbeda (pluralism lingkungan ekologis), peranian sawah di Jawa dan Bali, petanian lading di luar Jawa, yang pada akhirnya menimbulkan perbedaan yang ada di atas bumi Indonesia, dengan adanya perbedaan yang cukup beragam maka timbul berbagi kelompok sosial yang cukup banyak yang apabila dari masing-masing kelompok tersebut tidak dapat menghargai perbedaan yang ada maka akan rawan terjadinya konflik yang dapat menganggu kestabilan system system sosial Indonesia yang majemuk tersebut yang lama-kelamaan akan merusak integrasin persatuan nasional bangsa Indonesia, disni proses sosial yang ada dalam massyarakat majemuk dimanfaatkan sebagai alat untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang timbul karena adanya perbedaan tesebut dengan bentuk interaksi sosial yang disitu banyak bentuk interaksi sosial yang bersifat membangun dalammengatasi perbedaan yang ada. Interaksi sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia yang majemuk tidak dapat dilakukan dengan serta-merta tetapi dengan menggunakan teory fungsional struktural. Dengan teory ini proses sosial yang ada dalam masyarakat Indonesia yang majemuk diadopsi menjadi alat yang cukup ampuh dalam mengatasi permasalahan perbedaan yang sekaligus dapat mengintegrasikan masyarakat Indonesia yang majemuk, dengan jalan adanya interaksi diantara kelompok-kelompok sosial dalam masyarakat untuk mewujudkan kesetabilan system sosial dengan kata sepakat diantara mereka, dengan begitu maka dalam kehidupan sosialnya masyarakat Indonesia yang majemuk akan terikat oleh kata sepakat terebut baik langsung maupun tidak langsung yang brpedoman terhadap nilai-nilai yang telah diseoakati sebelumnya. Dan secara tidak langsung masyarakat Indonesia kan bergerak kearah keseimbangan yang pada akhirnya dapat mengintegrasikan mereka.



Daftar Pustaka



Waridah Q, Siti. Sukardi,J. Isdiyono. Sosiologi. Jakarta: PT Bumi Aksara.2004.
Nasikun. Sistem sosial Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.2009.
Sahara, Siti dkk. Keterampilan Berbahasa Indonesia. Jakarta: FITK Press. 2008.
Poloma, Margaret. Sosiologi Kontemporer. Jakarta: CV. Rajawali. 1984.
Ravo, Bernand. Teori Sosiologi Modern. Jakarta:Prestasi Pustaka. 2007.
Ritzer, Georgre dan Goodman, Douglas.Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Kencana. 2007.
Turner, Jonathan. The Structure of Sociological Theory. California: Wadsworth Publishing Company, 1991.
Paul Johson, Doyle. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Di indonesiakan oleh Robert M.Z. Lawang). Jakarta: PT. Gramedia. 198















































Komentar

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Berita Terkini

Loading...

Kunjungan

 

Subscribe to our Newsletter

Contact our Support

Email us: rizkialkharim@ymail.com

Our Team Memebers